Pembangunan Ekonomi Daerah

 

A. Distribusi PDB Nasional Menurut Provinsi

Produk domestik regional bruto (PDRB) yang relatif sama antarprovinsi memberi suatu indikasi bahwa distribusi PDB nasional relatif merata antarprovinsi, yang berarti kesenjangan ekonomi antarprovinsi relatif kecil.

Di Indonesia, data BPS mengenai produk domestik bruto (PDRB) di 27 provinsi menunjukkan sebagian besar dari PDB nasional berasal dari provinsi – provinsi di pulau Jawa, khususnya provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Pada decade 90-an provinsi – provinsi seperti pulau Jawa dan DKI Jakarta menyumbang lebih dari 60% terhadap pembentukan PDB Indonesia.

Dilihat dari data BPS sejak 1980-an hingga saat ini dan dibandingkan dengan 1970-an dan periode sebelumnya, diperoleh suatu gambaran adanya dekonsentrasi dari DKI Jakarta ke daerah – daerah lain disekitar DKI Jakarta karena dipengaruhi oleh penyebaran kegiatan – kegiatan ekonomi, khususnya industry dan jasa, ke daerah Jabodetabek yang masuk dalam kawasan Jawa Barat. Walaupun demikian, DKI Jakarta masih tetap pusat pertumbuhan di Indonesia.

Kontribusi PDB dari wilayah – wilayah yang kaya migas, seperti DI Aceh, Riau, dan Kalimantan Timur masih sangat kecil, terlebih lagi jika output agregat dihitung tanpa minyak dan (migas) kontribusi yang mereka berikan bertambah sangat kecil. Hal ini memberikan kesan bahwa sektor migas bukan suatu jaminan bagi kinerja ekonomi dari suatu wilayah yang kaya akan migas. Hal tersebut dikarenakan perekonomian DKI Jakarta jauh lebih produktif dibandingkan perekonomian dari tiga provinsi yang kaya sumber daya alam (SDA) tersebut, karena DKI Jakarta memiliki sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur yang jauh lebih banyak dengan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan yang ada di tiga provinsi tersebut.

 

 

B. Peranan Sumberdaya Ekonomi Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era otonomi daerah dewasa ini, kecepatan dan optimalisasi pembangunan wilayah (daerah) tentu akan sangat ditentukan oleh kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi (baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia). Keterbatasan dalam kepemilikan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang berkulitas dapat menimbulkan kemunduran yang sangat berarti dalam dinamika pembangunan ekonomi daerah. Konsekuensi lain yang ditimbulkan sebagai akibat terbatasnya kapasitas dan kapabilitas sumberdaya ekonomi yang dimiliki daerah adalah ketidakleluasaan daerah yang bersangkutan untuk mengarahkan program dan kegiatan pembangunan ekonominya, dan situasi ini menyebabkan munculnya pula disparitas pembangunan ekonomi wilayah. Kondisi ini tampaknya menjadi tak terhindarkan terutama bila dikaitkan dengan pelaksanaan otonomi daerah dewasa ini.

Dalam telaah teoritis, dengan sangat tepat Hadi dan Anwar (1996) yang banyak menganalisis tentang dinamika ketimpangan dan pembangunan ekonomi antar wilayah mengungkapkan bahwa salah satu penyebab munculnya ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah di Indonesia adalah adanya perbedaan dalam karakteristik limpahan sumberdaya alam (resources endowment) dan sumberdaya manusia (human resources) disamping beberapa faktor lain yang juga sangat krusial seperti perbedaan demografi, perbedaan potensi lokasi, perbedaan aspek aksesibilitas dan kekuasaan (power) dalam pengambilan keputusan serta perbedaan aspek potensi pasar.
Dengan pola analisis sebagaimana diilustrasikan diatas dapat digarisbawahi bahwa pengelolaan, ketersediaan, dan kebijakan yang tepat, relevan serta komprehensif amat dibutuhkan dalam kaitannya dengan percepatan proses pembangunan ekonomi daerah dan penguatan tatanan ekonomi daerah yang pada gilirannya dapat menjamin keberlanjutan proses pembangunan ekonomi dimaksud. Namun amat disayangkan, dinamika pelaksanaan pembangunan ekonomi wilayah (daerah) dalam era otonomi daerah dewasa ini, memiliki atau menampakkan suatu kedenderungan dimana daerah yang kaya akan sumberdaya alam lebih cepat menikmati kemajuan pembangunan bila dibandingkan dengan wilayah lain yang miskin akan sumberdaya alam, hal ini diperparah lagi dengan keterbatasan kualitas sumberdaya manusia. Apabila kondisi seperti ini terus berlanjut maka tidaklah terlalu mengherankan manakala issu tentang ketimpangan pembangunan antara wilayah (kawasan) yang merebak di akhir Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama yang lalu, kembali muncul dengan sosok yang semakin mengkhawatirkan.

Sumber :

Dr. Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia

http://junaidichaniago.wordpress.com/2010/02/01/peranan-sumberdaya-ekonomi-dalam-pembangunan-ekonomi-daerah/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: