Raden Saleh

Siapa yang tidak mengenal sosok Raden Saleh? Apa yang tersirat ketika anda mendengar nama besar Raden Saleh?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Raden Saleh adalah seorang pelukis Indonesia pada jaman penjajahan yang namanya terkenal hingga ke mancanegara. Namanya kembali mencuat setelah beberapa waktu lalu diadakan pameran lukisan pribadinya untuk mengenang sosok Raden Saleh di Goethe Institut dan Galeri Nasional Indonesia pada 3-17 juni yang lalu .

Saya pernah mendengar cerita tentang Raden Saleh dari guru bimbel pelajaran sejarah saya dan menurut saya cerita itu sangat “wow” (terdapat pada bag. Cerita Raden Saleh). Akhirnya saya mencari tahu tentang Raden Saleh di internet dan menuturkannya kembali di blog ini.

Mengenai Raden Saleh

Raden Saleh mempunyai nama lengkap Pangeran Raden Saleh Syarif Bustaman yang lahir pada tahun 1811 berasal dari keluarga Tumenggung Kyai Ngabehi Kertoboso Bustaman, keluarga Bupati dan Bangsawan Indonesia yang berikatan darah langsung dengan Sultan dan Kerajaan Mataram. Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen. Kegemarannya menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat.

Pangeran Raden Saleh pindah ke Belanda-Eropa untuk belajar melukis dibawah bimbingan Cornelius Kruseman untuk melukis potret dan Andreas Schelfhout untuk tema pemandangan.

Cerita Raden Saleh

Semasa belajar di Belanda, Raden Saleh dianggap sebagai saingan berat sesama pelukis muda Belanda yang sedang belajar. Para pemuda Belanda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh dah akhirnya hinggap di atas lukisan tersebut. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden Saleh menyingkir.

Ketidakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Segera mereka ke rumah Raden Saleh dan ternyata pintu itu terkunci dari dalam dan tidak ada jawaban dari dalam rumah itu. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka menjerit dan melihat “Mayat Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam suasana panic Raden Saleh muncul dari balik pintu lain, “lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia”, ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi. Inilah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin kemampuannya.

Kehidupan Raden Saleh

            Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia malah berkesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama. Dan akhirnya, ia boleh mengangguhkan kepulangannya ke Indonesia. Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.

            Wawasan seninya pun makin berkembang seiring kekaguman pada karya tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene Delacroix (1798-1863), pelukis Perancis yang legendaris. Raden Saleh pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia  cari.

            Bersama pelukis Perancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan. Pengamatannya itu pun membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tehun 1851 ketika ia pulang ke Hindia bersama istrinya, yang seorang wanita Belanda.

Lukisan “Penyerahan Diri Diponegoro”

Meski serupa dengan karya Nicolas Pieneman, ia memberi interpretasi yang berbeda. Lukisan Pieneman menekankan peristiwa menyerahnya Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro.

Beda versi Raden Saleh, di lukisan yang selesai dibuat tahun 1857 itu pengikutnya tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tak ada. Ini menunjukkan, peristiwa itu terjadi di bulan Ramadan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik. Namun, perundingan gagal. Diponegoro ditangkap dengan mudah, karena Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Pada saat penangkapan itu, beliau sudah berada di Belanda. Setelah puluhan tahun kemudian kembali ke Indonesia dan mencari informasi mengenai peristiwa tersebut dari kerabat Pangeran Diponegoro. Dari usaha dan karya tersebut, tidaklah terlalu berlebihan bila beliau mendapat predikat sebagai Pahlawan Bangsa. Akhirnya, reputasi karya yang ditunjukkan oleh prestasi artistiknya, membuat Raden Saleh dikenang dengan rasa bangga.

Makna Lukisan “Penyerahan Diri Diponegoro” (Dalam pameran di Goethe Institut Juni lalu)

Lukisan ini adalah lukisan terpenting Raden Saleh yang merupakan satu-satunya lukisan tentang peristiwa nyata dalam sejarah Indonesia. Menurut salah satu relawan untuk pendamping pengunjung pameran di Goethe Institut beberapa waktu lalu, sifat orang Belanda penangkap Diponegoro yang jahat dan besar kepala digambarkan Raden Saleh dengan proporsi besaran kepala yang tidak normal.

Lukisan yang diselesaikan Raden Saleh pada 1857 itu seperti sebuah pelesetan atas lukisan serupa karya JW Pieneman, seorang Belanda, berjudul ”Penaklukan Dipanegara”. Di situ Diponegoro dilukiskan tertunduk lesu, tak berdaya dikepung pasukan De Kock.

Lewat  “Penangkapan Pangeran Dipanegara”, Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880) menantang interpretasi Pieneman. Dalam pameran, kurator Werner Kraus secara sengaja menyandingkan antara sketsa dan lukisan tersebut. “Dalam sketsa, Raden Saleh melukis semua orang dengan rinci dan proporsi bentuk tubuh yang sempurna. Lalu, di dalam lukisannya kita melihat semua kepala tentara Belanda terlalu besar. Itu kesengajaan. Dan, itu adalah sikap politik Raden Saleh yang menyatakan para penangkap Diponegoro adalah manusia berwatak jahat,” menurut Werner Kraus .

Sumber :

http://oase.kompas.com/read/2012/06/12/16392358/Raden.Saleh.dan.Puppets.Show.Diponegoro

http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Saleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: