PERNALARAN INDUKTIF

Pernalaran adalah suatu proses mencapai tujuan dan berpikir manusia dalam menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga menjadi suatu simpulan. Data yang dapat dipergunakan untuk pernalaran adalah sebuah kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan atau logika yang terdiri dari subjek dan predikat, serta bisa benar atau salah disebut proposisi.

Pernalaran Induktif

Pernalaran induktif adalah pernalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan khusus yang menghasilkan simpulan umum. Dengan kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus dari pernyataan (premis).

bentuk-bentuk pernalaran induktif, ada tiga :

  1. Generalisasi

Generalisasi adalah pernalaran yang memakai beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu atau khusus untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “pegawai PT.XYZ kaya-kaya”. Hal ini dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan gambaran seperti itu. Contoh :

Jika diberi gula, jus akan manis.

Jika diberi gula, kopi akan manis.

Jika diberi gula, teh akan manis.

Jadi, jika diberi gula, minuman akan manis.

Sah atau tidaknya simpulan dari generalisasi itu dapat dilihat bahwa data itu harus memadai jumlahnya, data itu harus mewakili secara keseluruhan, dan pengecualian pada data yang bersifat khusus tidak dapat dijadikan data.

  1. Analogi

Analogi adalah cara pengambilan pernalaran dengan cara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama. Contoh :

Andi adalah pegawai PT.XYZ.

Andi mendapat gaji besar.

Rina adalah pegawai PT.XYZ.

Oleh sebab itu, Rina mendapat gaji besar.

Tujuan pernalaran secara analogi yaitu analogi dilakukan untuk meramalkan kesamaan, untuk menyingkapkan kekeliruan, dan untuk menyusun klasifikasi.

  1. Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah pernalaran yang diperoleh dari gejala-gejala atau data yang saling berhubungan. Misalnya, siswa malas belajar, akibatnya nilai ujian jelek. Dalam hubungan kausal ini ada tiga hubungan antarmasalah.

Sebab-Akibat

Sebab-akibat ini berpola A menyebabkan B. Dapat juga berpola A menyebabkan B, C, dan seterusnya. Jadi efek atau akibat dari suatu peristiwa yang dianggap penyebab kadang lebih dari satu. Sebagai contoh, jika ada mahasiswa tidak ikut ujian, kita akan memperkirakan beberapa penyebabnya. Mungkin mahasiswa itu bangun kesiangan, mungkin datang telat, atau mungkin sakit parah.

Andaikata mahasiswa bangun kesiangan (A), dan tiba-tiba telat (B), ternyata mahasiswa itu ikut ujian (E), dapat disimpulkan bahwa tidak ikut ujiannya mahasiswa itu disebabkan karena sakit parah (C).

Pola rancangannya sebagai berikut.

kesiangan (A)   telat (B)   sakit parah (C)   mahasiswa tidak ikut ujian (E)

kesiangan (A)   telat (B)                                    mahasiswa ikut ujian (E)

Oleh sebab itu, sakit parah (C) menyebabkan mahasiswa tidak ikut ujian (E).

Pola seperti itu sesuai dengan metode agreement. Yaitu jka ada dua kasus atau lebih yang mempunyai satu gejala dan hanya satu kondisi yang menjadi penyebab sesuatu tersebut terjadi.

parfum (P)       makanan (Q)   obat (R)    menyebabkan kedatangan lalat (Y)

makanan (Q)   sabun (S)          teh (U)      menyebabkan kedatangan lalat (Y)

Jadi, makanan (Q) menyebabkan kedatangan lalat (Y)

Akibat-Sebab

Akibat-sebab ini dapat kita lihat peristiwa seseorang yang dipenjara. Dipenjara merupakan akibat dan melanggar hukum merupakan sebab. Akan tetapi, dalam pernalaran jenis ini, peristiwa sebab merupakan simpulan.

Akibat-Akibat

Akibat-akibat adalah suatu pernalaran yang menyiratkan penyebabnya. Peristiwa “akibat” langsung disimpulkan pada “akibat” yang lain. Contohnya sebagai berikut.

Ketika pulang bekerja, Ibu melihat tempat sampah di ruang makan berantakan. Ibu langsung menyimpulkan bahwa ayam di dapur pasti hilang.

Dalam kasus itu penyebabnya tidak di tampilkan, yaitu datangnya kucing. Pola itu dapat dilihat di bawah ini.

kucing (A)            menyebabkan tempat sampah berantakan (B)

kucing (A)            menyebabkan ayam hilang (C)

Dalam proses pernalaran, “akibat-akibat”, peristiwa tempat sampah berantakan (B) merupakan data, dan peristiwa ayam hilang (C) merupakan simpulan.

Jadi, karena tempat sampah berantakan (B), pasti ayam hilang (C).

Sumber :

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2009. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademika Pressindo.

 

Nama    : Eva Ruth Nadia

Kelas      : 3Eb01

NPM      : 22210452

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: